Cemburu

Aku diam. Diam. Diam. Diam.

Aku takut, jika aku berkata, yang aku katakan adalah suatu hal yang tak indah.

Aku tak ingin, apa yang aku katakan akan menyakitinya, atau mereka, atau kita.

Sepertinya…

Aku tak suka melihatnya bersamanya.

Aku tak suka melihat mereka bersama mereka.

Aku tak suka melihat mereka bersama mereka dari mereka.

Cemburu?

Iya, aku cemburu.

Cemburu akan kebersamaan?

Bisa jadi.

Cemburu karena kau mencintainya?

Tidak juga.

Cemburu karena kau ingin bersama mereka?

Tidak mungkin.

Cemburu karena kau iri padanya dan pada mereka?

Celakalah aku.

Selamat cemburu, maka akan habis waktumu!

Selamat cemburu, maka akan habis hatimu!

nod notes, novidwiwr

Advertisements

Pulanglah!

Tiga hari ini aku kabur dari kenyataan. Sebenarnya aku sadar bahwa semua itu hanyalah penumpukan kenyataan yang akan ‘mbendol’ di waktu yang lainnya. Tapi, jiwa ini berkata lain, bakal mbendol segedhe bakpao atau segedhe tiang, bodo amat! Saya harus pulang!

Ngapain saja saya di rumah? Saya tidur, makan, nonton tv, leyeh-leyeh, nyamil, kemudian tidur lagi, repeat. Seperti tidak ada hal produktif yang saya lakukan. Membantu ibuk? Hanya nyapu dan mencabut rumput. Semalas itu? Iya.

Satu-satunya hal produktif yang saya lakukan hanyalah… menatap wajah ibuk! Yang kemudian memberikan jawaban mengapa saya menjadi sedikit tidak waras akhir-akhir ini. Yang meneriaki saya bahwa jalan yang sedang saya tapak ini sepersekian derajat berbelok dari jalan yang seharusnya. Yang menampar saya bahwa hal tersebut tidak bisa dibiarkan saja! Jawaban, teriakkan, dan tamparan itu saya dapatkan ketika… lagi nyeruput kopi robusta adukan ibuk, sore itu, di gerimis itu.

Kamu tau kenapa aku harus pulang? Aku perlu meluruskan lagi, niatku, dan mengapa aku harus disini.

nod notes, novidwiwr

Karena Sayang

Aku cemas. Sepertinya ini tidak akan baik-baik saja. Sepertinya ini tidak akan berjalan dengan lancar. Sepertinya harapanku akan kandas.

Aku ragu. Apakah pilihanku adalah sesuatu yang benar? Apakah yang aku perjuangkan adalah sesuatu yang layak? Apakah ini akan sia-sia?

Aku ingin menyerah. Ah, memangnya aku sedang berjuang? Siapa aku? Pantaskah ini disebut sebagai perjuangan? Bisa jadi ini hanyalah bak ambisi seorang remaja kepada artis idolanya. Tapi, bisa jadi ini adalah ambisi yang memang perlu untuk diperjuangkan. Siapa tahu.

Lalu, jika aku menyerah, siapa lagi yang akan berjuang?

Aku memikirkannya sendiri. Tidak, aku hanya memikirkan sebagian saja. Atau bahkan, tidak sama sekali. Ah, mungkin aku benar-benar sudah menyerah.

Aku berpikir untuk menyerah, saat ini. Tapi hatiku berkata lain. Ada yang sesak. Karena apa? Bolehkah jika aku menjawabnya dengan, “semua ini karena aku sayang”?

nod notes, novidwiwr

Area Dewasa

Selamat ulang tahun ya ndok. Panjang umur sukses kuliahnya ditinggikan derajatnya dan dikasih banyak rejeki ama Allah. Amin Ya Robal Alamin. Jangan lupa dekatlah selalu kamu ama Allah ya ndok. – 5:31 WIB, 13 Mei 2017, dari Ibuk ❤

Wah, dengaren sekali hpku ramai dari puagi, mulai dari telpon, sms, whatsapp, line, sampe instagram. Mulai dari personal chat, grup, multiple chat, sampe story. Mulai dari ucapan, doa, harapan, banyolan, sampe minta traktir, haha. Btw, yang ngucapin secara langsung adakah, Nov? Ada, dong :* Terimakasih buat semuanya. Terimakasih dari hati yang paling dalam. Doaku juga menyertai kalian semua {}

Ahh, menyenangan sekali… sampai tiba saatnya hati mulai bergetar lagi. “Udah 20 tahun. Udah dewasa. Udah bukan anak kecil lagi. Yang dewasa woy!” Ahh, begitulah sepertinya kata hati. Kemudian pikiran menyahut, “Dewasa tu apa, sih? Kamu punya hak apa dengan mengatakan kalau seseorang yang sudah 20 tahun itu harus menjadi dewasa? Apa hakmu untuk mendefinisikan kedewasaan?” Kemudian aku hanya bisa membenamkan diri pada bantal. Hari itu tidaklah melelahkan. Tapi, hati dan pikirankulah yang sepertinya sedang berkecambuk dengan euforia ulang tahun.

Dewasa: mempunyai tujuan, mandiri, bijaksana, dan bertanggung jawab. Pikiranku hanya mampu berteori akan empat hal itu saja dengan keabsurdan-keabsurdan definisi dewasa di luar sana. Tujuan. Seseorang jelas harus memiliki tujuan, nawaytu-nya harus ada. Ketika bocah dan remaja masih mengikuti arus dan tujuan orang tua, guru, teman, dan mungkin tetangga, dewasa tidak bisa seperti itu. Sayangnya, tujuan saja tidak cukup. Cara, proses, dan dasar dalam mencapai tujuan hidup tersebut harus ada. Pertama adalah mandiri. Tidak menggantungkan pada orang lain, melainkan tumpuannya ada pada diri sendiri, dan bukan berarti tidak bersosialisasi. Kedua, bijaksana. Dalam perjalanan hidup yang dewasa, segala tindakan, pilihan, dan keputusan, harus dipikir benar-benar dan ditimbang dari segala aspek kehidupan. Ketika semua itu sudah diputuskan, maka selanjutnya adalah tanggung jawab. Semua harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia, maupun di akhirat. Ketika circle dari keempat hal tersebut berjalan, disitulah “dewasa” dapat dilabelkan pada seseorang. Karena dari keempat hal tersebutlah, menurut pikiran dangkal saya, ke-homeostasis-an hidup dapat tercapai. Ahh, saya sudah bisa berteori yak. Ucapkan selamat untuk saya dong.

Kemudian, hati mulai bergetar lagi, pun pikiran. Sudahkah aku memiliki tujuan hidup? Sudahkah tujuan hidup itu adalah dasar dari hidup itu sendiri? Sudahkah dalam proses mencapai tujuan tersebut sudah berdasarkan apa yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, baik dunia dan akhirat? Sudahkah mandiri, bijaksana, dan bertanggung jawab ada pada diri? Sudahkah? Sudahkah? Nyatanya, semua itu masih separuh proses. Atau mungkin seperempat. Atau bahkan seper tak hingga.

Lalu, apakah itu salah? Yahhh, siapa juga orang yang mau disalahkan. Pembenaran. Alhasil, aku hanya bisa mencari pembenaran dengan… “Ya kan, ini baru awal, angka belakangnya masih ‘nol’. Ini masih merangkak, masih belajar. Seenggaknya aku sudah punya definisi dewasa versiku sendiri. Dan ini masih belajar untuk mencapai itu semua. Bukankah memang kehidupan adalah proses untuk belajar. Dan, apakah kita hanya akan berpatok pada DEWASA dan TAK DEWASA?” Baiklah, maafkan saya yang masih dalam proses “hanya bisa mengakui dan mencari pembenaran”. Aku akui, aku masih belum bisa dewasa dan ini lagi amping-amping di depan gang “AREA DEWASA”.

-nod-

Btw, aku juga punya hadiah buat kalian meskipun kalian lagi gak ultah. Nih..

nod notes, novidwiwr

Pertemuan Ini, Aku Sangat Bersyukur

Ada yang membuatku penasaran ketika aku mengikuti beberapa drama Korea. Banyak drama Korea yang menyebut-nyebut kata “Unmyeong” sebagai sesuatu yang indah, namun sakral dan penuh misteri. Entahlah, aku tidak pernah tinggal di Korea –mampir aja gak pernah. Tapi, sepertinya unmyeong memang menjadi sesuatu yang spesial bagi orang Korea, terlebih soal cinta.  Lalu, unmyeong itu apa? Unmyeong – kita sering menyebutnya dengan “takdir”.

Takdir. Takdir-Nya memang sering membuat kita bertanya-tanya. “Kok bisa ya, aku ada disini? Kok bisa ya, aku menjadi ini? Kok bisa ya? Kok bisa ya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering sekali muncul dan kita hanya bisa bertanya-tanya. Kuasa ada pada-Nya, pun jalan-Nya. “Kenapa ya, aku bisa ditakdirkan tinggal di lingkungan seperti ini? Kenapa ya, aku ditakdirkan ada di tempat ini? Kenapa ya, aku harus melalui semua ini?” Hingga tiba suatu saat dimana kemudian kita menebak-nebak, mencoba mengambil hikmah, dan mensyukuri semuanya. Ah, betapa indahnya ‘suatu saat’ itu.

Mungkinkah ‘suatu saat’ itu adalah ‘saat ini’? Saat ini aku bertemu denganmu, dengan kau, dengan kalian, dengan mereka, dengan kita, dengan dia, dengan ini, dan dengan itu. Bertemu, berkenalan, berteman, bersahabat, bercakap, menyayangi, mengasihi, menasehati, menangis, menertawakan, melindungi, mendukung, menjaga, memarahi, membenci, dan semuanyaa, dan semuanyaa. Fasenya sekarang adalah aku sedang menebak seolah ini adalah misteri. Kemudian mencoba mengambil hikmah yang mungkin sakral. Hingga aku pun menyimpulkan bahwa semua ini adalah… unmyeong dan ini… unmyeong yang indah.

Terimakasih dari hati.

Pertemuan ini, aku sangat bersyukur.

Terlebih, untuk kamu dan kalian.

Sekali lagi, kok bisa, ya?

-salam syukur, dari nod-

Definisi Kasih

Salam kasih buat semuanya.. Masih dalam suasana hari (yang katanya) hari kasih sayang, kan? Kalian dapet salam kasih nih, dari anak yang udah lebih dari tiga minggu ini lagi penuh kasih karena kerjaannya cuma manja-manja di rumah sambil nonton telenovela 5 jam sehari. Siapa? Iya, aku. Udah telenovela banget, kan?

Pas lagi nonton telenovela itu, tiba-tiba ibuku “ngudang” diriku yang (kata ibuku) imut ini dengan bilang, “saaken aku mbek anakku iki”. Perlu translate? Baiklah, bahasa Indonesianya adalah “kasihan aku sama anakku ini”. “Lah, buat apa coba, kasihan sama aku hahaha”, si gadis imut itu menjawab dengan lugunya (lugu: lucu dan guoblok, kata pak Mario). Kemudian sang ibu menjawab sambil berdiri mau ngentasin jemuran depan rumah, “ya, soalnya ibuk gak bisa ngebahagiain kamu”. Akhirnya, si anak lugu itu cuma terdiam dan merenung. Merenungnya pun kebawa sampe tulisan ini.

Kasih. Kasihan. Kekasih. Terkasih. Terima kasih. Kasih punya saudara kembar tak identik, namanya Sayang. Mereka sering rebutan Song Joong Ki buat jadi pacar mereka. Sebut saja mereka: Kasih Sayang. Kasih juga punya sahabat sejati, sedamar, sesengon, namanya Cinta. Mereka sering ngebaperin drama korea berdua. Sebut saja mereka: Cinta Kasih. Cinta dan Sayang sendiri, kerap terlihat shopping bareng gitu. Orang menyebutnya: saling me(n)Sayang-i dan saling me(n)Cinta-i. –bisya gitu yah, mereka bertiga.

Aku jadi ingat pembicaraanku dengan seorang teman. Sebut saja dia: pak Es. Aku dan pak Es berbicara tentang Cinta dan Sayang yang kerap terlihat shopping bareng tadi. Pak Es menjelaskan definisi Cinta dan Sayang versinya. Sepenangkepanku, intinya, Sayang adalah rasa nyaman. Ketika rasa nyaman itu hilang, rasa sayang itu pun juga akan hilang. Itulah salah satu alasan orang takut untuk nikah; karena udah terlanjur nyaman dengan pacaran zone. Sedangkan Cinta, dia memiliki rasa pengorbanan. Ketika tidak ada kenyamanan, Cintalah yang berjuang untuk menumbuhkan kembali rasa itu. Sehingga, hubungan atas nama Cinta akan tumbuh lebih kuat, dibanding hanya dengan atas nama Sayang #aseek. Nb (1): untuk pak Es, maaf kalau ada definisi yang kurang, maafkan kedangkalan saya hehe. Nb (2): untuk yang gak setuju sama pak Es, plizz, gak usah berusaha mencari pak Es.

Saat itu, pak Es tidak membahas tentang Kasih. Jadi, mari kita bahas si Kasih dengan versi ibuk aku. Memang iya, sepertinya Kasih memang punya hubungan darah dengan sosok Ibu. Masih ingat lagu “Kasih Ibu”? Aku bertanya-tanya, kenapa harus Kasih, bukan Cinta atau pun Sayang. Padahal, aku nyaman bersama ibuk. Sangattt nyamannn malah. Masih tanya pengorbanan ibuk? Masih tanya gimana ibuk berjuang untuk kenyamanan kita? Yang iya, harusnya kita yang nanya, udah berkorban buat ibu apa belum! Ini loh, ini loh! Ketika Cinta berjuang atas nama hubungan, lain dengan Kasih. Cinta berjuang untuk dua insan yang sedang memadu cinta tadi. Cinta namanya, jika tidak ada pihak yang dirugikan dalam hubungan ini. Win-win gitu. Lalu, gimana dengan Kasih? Kasih adalah tak terhingga. Kasih adalah sepanjang masa. Kasih adalah hanya memberi dan tak harap kembali. Kasih adalah bagai sang surya yang menyinari dunia. – by Ibu Sud. Yang perlu digarisbawahi disini adalah “hanya memberi dan tak harap kembali”.

Jadi, sudah jelas, kan, kenapa di atas tadi ibuk ku menyebutkan kata “Kasih” dan bukan yang lain? Kasih sudah mewakili semuanya, rasa sayang, cinta, ketulusan, pengorbanan, ketidakpamrihan, dan rasa yang tidak bisa diungkapkan saking dalemnya rasa itu. Ketika Cinta retak karena tak terbalaskan, Kasih tak akan retak. Semengecewakan apa pun itu, Kasih tak akan pernah enyah…karena definisi “kasih” sangat singkat, padat, dan jelas; IBU.

Adakah yang punya definisi lain? -nod

nod notes, novidwiwr

Orang Asing

Hai, kau, yang namanya asing! Hai, kau yang disana, yang di tempat asing! Hai, kau yang entah kapan, yang waktunya pun asing!

Di penghujung tahun ini, aku ingin sedikit membahas tentang orang-orang yang tidak pernah kubahas. Mereka? Aku juga tak tau siapa mereka, mereka dimana, dan kapan mereka ada. Mungkin mereka semacam you-know-who di Harry Potter. Mungkin mereka datang dari antah bratah seperti di puisi lama. Mungkin mereka datangnya tiba-tiba, kemudian menghentikan waktu, dan menghilang; semacam Do Min Joon di You Who Came From The Star. Aku pun tak tau harus membahas apa. Tapi, ku sangat ingin membahasnya.

Ah, ternyata aku sama saja dengan mereka. Hanya keasingan yang ku tahu, tapi aku sudah bisa menulis dua paragraf di atas. Sama saja. Mereka asing bagiku, tapi ingin tau tentangku, tau akan adanya aku, memikirkanku, dan berkata banyak tentangku. Wah, hebatnya. Jika aku semacam Song Hye Kyo, yang orang lain pasti tau siapa aku, yang orang lain pasti akan membicarakan kecantikanku, hmm begitu bahagianya aku. Sayangnya, aku bukan Song Hye Kyo itu.

Wahai orang asing, apa resolusimu 2017 nanti? Apakah kau akan berkenalan denganku? Tapi maaf, aku bukan orang yang mudah kau jadikan teman. Aku sangat egois, menjengkelkan, penuh dusta, tak ber-uang, dan tak berperasaan. No, ini bukan sedang merendah untuk meninggi seperti yang lagi hitz. Ini benar-benar rendah! Sehingga, nasehatku adalah…tetaplah menjadi asing saja.

nod notes, novidwiwr

Bloglovin’, Love It

bloglovin

Selalu suka sama tempat yang satu ini, Bloglovin. Masih ada yang gak tau bloglovin itu apa, ya? Hmm, ternyata masih banyak yang gak gahul yah.

Jadi, bloglovin itu semacam sosial media yang isi time linenya itu postingan blog yang kita follow. Entah itu domainnya wordpress, blogspot, .com, .net, dan temen-temennya, semua bisa difollow asalkan blog itu sudah diklaim di bloglovin.

Memang sih, aku gak dibayar buat promosiin bloglovin, tapi emang ini bagus banget. Mulai dari blog pertama sampai blog kedua ini, mainannya ya bloglovin hehe. Cuss, sign up bloglovin. Terus klaim blog kamu dan follow blog akuhh hahaha.

-selamat Sabtu, dari nod-

nodfooter

Berpura dan Kebahagiaan

Itu bukan salah mereka, melainkan salah dirimu yang selalu berpura-pura. Jadi, ya.. mungkin mereka melakukan itu padamu karena ketidaktahuan mereka. Sekali lagi, jangan salahkan orang lain. Pun, jangan menghakimi dirimu sendiri. Dengan begitu, hidupmu akan bahagia. 

Dunia adalah sebuah panggung sandiwara. Terlalu banyak tipu daya di dalamnya. Kadang kita melakukan sesuatu hanya untuk terlihat. Melakukan sesuatu untuk membuat orang lain bahagia. Bahkan, membohongi diri sendiri agar tidak menyakiti orang lain. Baik, sebut saja semua itu adalah keterpaksaan.

Semua orang ingin bebas, itu pasti. Tapi, kebebasan pasti akan dibatasi oleh peraturan. No, sekarang kita sedang tidak membahas keterpaksaan akan peraturan, tapi keterpaksaan akan perasaan. Ah, dalamnya satu kata itu, “perasaan”. Jika boleh, aku akan memilih diciptakan tanpa perasaan. Begitu rumitnya satu hal itu, sampai ya..seperti inilah. Belenggu ketidakenakan, ketidaknyamanan, dan keterpaksaan, akan selalu ada.

Terbuka, jaga hati, lapangkan hati, dan sirami hati. Dengan begitu, perasaan bahagia akan selalu ada, tanpa adanya keberpuraan.

Selamat Minggu dari si pura-pura :<

nod notes, novidwiwr

Again… Lumutan

Ahh manusia. Circlenya ya gitu-gitu aja. Wacana, realisasi setengah-setengah, ujungnya penyesalan. Ahh ada yang lagi ngomong sama kaca. Iya, saya.

Duh, kenapa jadi ngomong pakai “saya” sih.

Jadi… masih dalam suasana UTS dan… masih dalam suasana ngebaperin Kim Je Ha The K2, aku baru kepikiran sesuatu. Yup, blog yang sudah berlumut bahkan berpaku, sampai fase generatif vegetatifnya sudah muter-muter gak jelas, gak bisa dibedain mana protonema, protalium, dan sekawannya. Yahh as always, semangat di awal doang! Ya… maklum lah, kan masih sibuk. Suer deh, setelah ini bakal rutin lagi. Senin kamis kan? Gampang lah… –oke fine, pembelaan pun dimulai.

Parahnya, yang seperti itu gak cuma terjadi di kehidupan yang sereceh itu aja, tapi di kehidupan yang menentukan harkat martabat derajat masa depan. Daku jujur mengatakan, inilah yang terjadi. Tapi, biarlah aku yang tau seberapa berlumutnya sesuatu itu karena menyebarkan aib sendiri adalah sesuatu yang dilarang agama –pembelaan as again. Yang lebih parah dari yang terparahnya, ketika aku survey ke beberapa (jumlahnya lumayan) anak yang sepantaran aku, yang katanya PEMUDA, hal kayak gini juga terjadi pada mereka. Semangat di awal, oke fix bakal belajar rajin, ini itu disiapin, dan ujungnya… preketek. Yang lebih parah dari yang lebih parah dari yang terparahnya, hal itu seolah-olah wajar. Ini lho yang bahaya! Mewajarkan sesuatu yang salah. Uwooo. Salah satu tanda-tanda kiamat juga itu woy. Atuuutttt.

Jadi, kenapa aku nulis ini adalah karena aku ingin menyadarkan diriku sendiri utamanya, bahwa “kewajaran” yang tadi itu adalah “gak wajar”. Membiarkan circle tadi terus terjadi adalah suatu ketidakwajaran. Semangat! Ingat pada tujuan awal! Ingat sama yang di rumah! Selalu bawa Allah kemana pun! Itu adalah kuncinya. Bukan sok bijak, bukan sok menggurui, hanya mengingatkan diri sendiri.

Selamat malam 🙂 ini sudah malam 🙂 btw, selamat hari sumpah pemuda 🙂

nod notes, novidwiwr