Langkah

Dia terus berjalan

Di belakangmu

Memperhatikan sekitar

Sambil menjaga langkah

Memperkecil langkah

Dia terus menebak-nebak

Kemana gerangan langkah kecil itu menuju

Pada persimpangan, dia tahu akhir tujuanmu

Dia mengambil jalan yang lain

Jalan yang juga menuju tujuan itu

Mempercepat langkah

Memperlebar langkah

Memastikan disana aman

Kemudian, kembali menjaga langkah

Hingga kau sampai disana

Dan aman

Dan yang kau tau hanyalah kau yang sendirian

 

-dari Nod, terima kasih telah menjaga langkah

nod notes, novidwiwr

Advertisements

Sekilas Cinta Menyedihkan

Sudah dua puluh tahun, tampaknya wajar ketika hati mulai berkenalan dengan hati yang lain. Kemudian mengasihi, entah berujung “saling” atau hanya “sendiri”. Terkadang, muncul banyak tanda yang membuat hati membuncah seolah-olah “saling” akan segera datang. Maklum, tanda ini tidak berstandar layaknya massa, suhu, maupun intensitas cahaya, melainkan hanya diukur secara sederhana dengan “kayaknya”, “sepertinya”, dan “mungkinkah”. Terus saja bertanya-tanya. Terus saja menebak-nebak. Hingga munculah tanda yang “sepertinya” menyakitkan.

Sepertinya “saling” tak akan datang. Entah memang benar-benar tak akan datang atau hanya sedang mencari udara segar. Kemudian, muncul keinginan untuk menjadi yang segar itu saja. Atau, ternyata “saling” sedang mencari tempat ramai. Kemudian, muncul keinginan untuk menjadi yang ramai itu saja. Atau atau,  jangan-jangan “saling” hanya sedang ingin di rumah saja bersama kehangatan. Kemudian, muncul keinginan untuk menjadi kehangatan itu saja.

Lihat? Sebenarnya yang kau inginkan apa? Bukankah menyedihkan ketika mengupayakan “bersaling” hanya untuk sesuatu yang ukuran waktunya seputar ”sedang”? Bukankah cinta tidak hanya sebatas kesedangan itu saja? Bukankah tujuan saling mencinta adalah untuk dimensi yang jauh lebih luas dari itu? Sekali lagi, sebenarnya yang kau inginkan apa?

-dari nod yang sedang menulis untuk dirinya sendiri-

nod notes, novidwiwr

Dari Dong Yi

Selamat siang dan selamat hujan dari Bandung,

Hari ini aku belum memutuskan mau menonton drama apa atau melanjutkan drama apa. Drama Korea memang sudah jadi bantal dan guling saya sehari-hari. Tolong jangan hujat saya! Karena belum kepikiran mau nonton apa, jadi saya akan mereview, untuk pertama kalinya dalam dunia per-blog-kan saya, drama Korea Dong Yi. Bukan mereview, lebih tepatnya menceritakan sedikit tentang apa yang saya dapat dari nonton drama ini.

WARNING! Bagi Anda yang alergi per-Korea-an, per-Drama-an, per-Plastik-an, lebih baik tidak usah lanjut baca! Dari pada nanti diujung Anda hanya menghujat dan akhirnya menambah dosa 🙂

Dong Yi, atau juga dikenal dengan judul Jewel in The Crown, bisa dibilang adalah drama pertama yang mengambil hati anak kecil, masih SMP, yang kalo naik angkot boleh cuma bayar seribu rupiah, asal pake seragam. Kalo pulang sekolah ngemper dulu di depan kantor bank deket alun-alun, sambil nunggu angkot lewat. Sampe rumah langsung ganti baju, ambil makan, duduk depan tv, ceklek, nonton Dong Yi! Biasanya udah kelewat setengah jam gitu, jadi cuma nonton separuh, itu pun dipotong-potong sama pihak ikan terbangnya, dan diganggu iklan, eh diganggu adik juga. Dari yang sepotong-potong itu aja saya benar-benar jatuh cinta sama sosok Dong Yi ini. Gadis cerdas, cekatan, tulus, dan menyenangkan. Han Hyo Joo bener-bener sukses meranin si Dong Yi.

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada pengembang teknologi, berkat kegigihannya, akhirnya saya bisa menikmati drama Korea lewat laptop, tanpa gangguan-gangguan tadi. Saya pun juga berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Fast-net, destinasi wisata di Jember yang jadi surganya pecinta film dan drama dari SELURUH DUNIA! Tinggal paketan 5000 per 2 jam (harga jaman SMA sih), tinggal bawa flashdisk sebanyak-banyaknya, Anda bisa rampok berbagai film dan drama disana. Paling yah, cuma butuh kesabaran buat ngantri beberapa jam gitu sih. Sampe ngantri loh, ciyus! Sayang yang paling disayangkan adalah, DI FASTNET GAK ADA DONG YI! Oke, fine, saya akan sok tabah, sok sabar. Sampai pada akhirnya, atas seizin Yang Maha Kuasa, saya mendapatkan Dong Yi lengkap 60 episode….ngopi punya temen. Itu adalah tahun 2017 dan Dong Yi adalah drama tahun 2010. Dan saya menamatkannya di….awal tahun 2018. Perjalanan yang cukup panjang 😀

Sesudahnya, waktunya review dimulai. Kalau mau review yang lengkap, monggo dicari di empu google saja.

Seperti yang saya jelaskan di atas, Dong Yi adalah sosok gadis cerdas, cekatan, tulus, dan menyenangkan, yang hidup di tahun 1600-an. Iya, latarnya kerajaan, Joseon. Kalo ada yang bilang drama saeguk alias drama kerajaan itu membosankan, TIDAK! 60 episode pak! Tapi sekali lagi,tidak, sangat tidak membosankan, menurut saya! Kehidupan Dong Yi pun diceritakan sejak dia kecil sampai wafat dengan sangat apik. Bagaimana Dong Yi sekawan mengungkap kebenaran juga dialur dengan sangat cerdas. Drama ini benar-benar membuktikan bahwa kebajikan dan ketulusan hati adalah kunci dari menjalani hidup yang panjang.

Berikut adalah sedikit YANG SAYA DAPAT DARI DRAMA: DONG YI

IMG_20180128_150237.png

  1. Manusia itu rendah atau tinggi dengan hatinya, bukan pangkatnya.

Ini adalah kata-kata ayah Dong Yi dan tertanam dalam hati Dong Yi. Pada saat itu, di Joseon, orang akan dipandang tergantung pangkat yang melekat padanya. Bangsawan akan sangat dihormati, sedangkan rakyat jelata akan selalu diinjak-injak, disiksa, dan ditindas. Kondisi ini adalah salah satu alasan mengapa ayah Dong Yi, yang juga dari rakyat jelata, mendirikan Persaudaraan Pedang untuk melindungi rakyat-rakyat tersebut, dengan satu prinsip yaitu tidak membunuh satu nyawa pun. Namun, kemudian Persaudaraan Pedang difitnah membunuh seorang bangsawan dan melakukan pemberontakan. Persaudaraan Pedang ditumpas habis sehingga Dong Yi hidup sebatang kara. Pada saat itu Dong Yi juga menjadi buronan karena merupakan anak ketua Persaudaraan Pedang. Untuk menyelamatkan diri, Dong Yi masuk ke dalam istana dengan menjadi pelayan, sekaligus mencari tahu kebenaran dari kematian ayahnya.

Dong Yi juga membuktikan kebenaran kata-kata itu dengan menjadi selir dari keturunan rendah, tetapi memiliki hati yang tinggi dan disayangi oleh rakyat-rakyatnya sampai akhir hayatnya.

2. Saya selalu berpikir hanya perempuan tak layak yang akan cemburu dan aku takkan pernah menjadi seperti mereka.

Kisah Dong Yi di istana sangat luar biasa. Dengan pribadinya yang rajin, taat, tulus, cerdas, dan menyenangkan, Dong Yi berhasil mengambil hati selir Hui, sekaligus mengambil hati Raja. Pertemuan Dong Yi dan Raja terjadi di luar istana dengan sangat tidak terduga, bahkan Dong Yi tidak mengenali Raja tersebut. Bisa ditebak, Raja jatuh hati pada Dong Yi! Selir Hui mulai merasa cemburu dan munculah kata-kata tersebut.

3. Hati seseorang tidak dilihat oleh kata-katanya, tetapi dengan tindakannya.

Ini juga kata-kata Selir Hui setelah benar-benar sadar bahwa hati Raja sudah tidak padanya, melainkan pada Dong Yi. Betewe, di lain sisi kata-kata ini juga bikin baper hmmm

4. Kebiasaan yang salah harus dibuat benar. Itu wajar saja kita akan memiliki konflik

Istana sarat akan korupsi. Para pejabat hanya mementingkan kekayaan dan keuntungan pribadi dan memanfaatkan rakyat kecil untuk itu. Hmm, seperti di negara kita ini sih ya. Saat itu, Dong Yi yang menjadi dayang pengawas ditugaskan untuk mengaudit sebuah biro, yang biasanya, biro tersebut melakukan audit sendiri karena tidak mau dayang pengawas ikut campur. Padahal sudah jelas bahwa dayang pengawas berwenang melakukan audit. Dong Yi pun menemukan kejanggalan dan bersikeras melakukan audit meskipun biro tersebut sampai menganiaya Dong Yi. Karena kegigihannya, nyonya dayang pengawas bersedia mendukung Dong Yi dan siap menerima konflik, seperti yang dia katakan di atas. Yah, mengubah kebiasaan memang susah. Budaya yang sudah biasa sering dianggap benar, sedangkan budaya yang tidak biasa akan dianggap salah. Hmmm, budaya.

5. Kau pernah bilang bahwa kau tidak layak untuk di posisi ini. Tapi pasti ada alasannya mengapa kau telah diberikan posisi ini. Ada sesuatu yang harus anda lakukan

Dong Yi diangkat menjadi Dayang Khusus kerajaan. Itu adalah hal yang tidak pernah dibayangkan olehnya, karena memang di awal, tujuannya masuk ke istana bukanlah untuk itu. Dan benar, ada alasan mengapa seseorang ditempatkan di suatu posisi. Ada yang harus dilakukan. Dan yang dilakukan Dong Yi adalah sesuatu yang luar biasa! Silahkan tonton saja!

6. Kekuasaan dapat mengatasi kebenaran, tapi kebenaran tidak akan hilang.

Perang politik antara Dong Yi dan Selir Hui dimulai. Sampai akhirnya, segala kejahatan yang dilakukan Selir Hui dengan memanfaatkan kekuasaaan terungkap, meskipun dalam mengungkapnya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bagi kalian yang suka politik, intrik, dan taktik, wajib nonton!

7. Ada masyarakat yang perlu aku bantu, tapi semua yang aku lakukan hanya membaca kata-kata di kertas.

Seperti biasa, raja, pemimpin negara, hanya mendapat laporan dari bawahannya terkait kondisi pemerintahan dan masyarakatnya. Setelah melihat langsung kondisi rakyatnya, Raja sadar bahwa apa yang dilaporkan bawahannya belum tentu benar adanya. Itulah mengapa, pemimpin juga perlu turun ke bawah, perlu.

8. Anda harus tidak lagi peduli dengan “dapatkah saya”, tapi “bagaimana saya akan”.

Dong Yi masih tidak percaya dengan posisi yang ia capai. Bayangkan, dari pelayan, kemudian dayang pengawas, naik lagi menjadi dayang khusus, kemudian selir tingkat tinggi. Ketika seseorang mencapai suatu posisi, maka yang harus dipikirkan bukan lagi apakah Anda bisa mengembannya, melainkan bagaimana cara Anda mengembannya.

9. Ada banyak orang di dunia ini yang tidak menginjak-injak yang lain. Mereka berbagi dengan yang lain dan merangkul orang lain. Banyak orang yang menganggap itu adalah jalan kebahagiaan.

Politik sarat akan saling melukai, saling sikut, dan siapa yang bertahan itulah yang berkuasa. Dengan berkuasa, maka kebahagiaan akan tercapai. Begitulah kepercayaan para pejabat saat itu. Berbeda dengan Dong Yi. Dong Yi bisa melihat politik dengan sisi yang lain. Bagaimana cara Dong Yi berpolitik? Ah, silahkan tonton sendiri! Hehe, ini adalah cara saya berpolitik agar Anda juga nonton Dong Yi, hahaha.

10. Kekuatan itu tidak mengambil, tapi membagi dengan yang lain. Kekuatan yang tahu mana benar dan salah. Dan yang paling penting, kekuatan untuk tahu bahwa apa yang kita punya ini tidak ada artinya.

Dong Yi menginginkan putranya, sang pangeran, memiliki kekuatan yang ia sebutkan di atas. Definisi kekuatan saat itu adalah kekuatan pendukung, seperti partai politik kalau jaman sekarang. Kekuatan dengan definisi Dong Yi memang berbeda! Sekali lagi, Anda wajib nonton!

11. Aku adalah ibu pangeran, bukan pangeran. Dia harus mendapatkan gurunya sendiri.

Saya suka dengan cara Dong Yi mendidik pangeran. Tidak heran, pangeran tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bijaksana, tanggung jawab, dan…tulus!

12. Kamu menyatakan dalam politik tidak ada pilihan? Omong kosong. Politik butuh kejujuran dan kebenaran.

Pada saat itu, seseorang terutama bangsawan akan melakukan apapun untuk menjaga kekuasaannya. Jalan seburuk apapun akan mereka lewati. Pada kenyataanya, politik tidak harus seperti itu. Dengan kejujuran dan kebenaran, apa yang diraih akan jauh lebih bermartabat dan…indah!

13. Aku mengimpikan dunia dimana kekuasaan tidak direbut dengan konspirasi. Sebuah tempat dimana darah tidak dibayar dengan darah.

Demi melindungi putra mahkota dan pangeran, pertumpahan darah terjadi dimana-mana. Para pejabat melakukan hal yang sangat mengerikan untuk saling berebut kekuasaan hingga ujungnya mereka sendirilah yang menuai buahnya. Di jaman Joseon, hukuman bagi seorang penjahat tidak hanya dengan dipenjara, melainkan disiksa, dipancung, digantung, bahkan diracun.

Itu tadi adalah beberapa kalimat dari Drama Dong Yi yang semoga bisa menjadi pelajaran. Saya rasa, terlebih dahulu, Anda harus nonton Dong Yi dengan hati Anda sendiri. Dengan begitu, apa yang saya rasakan tentang Dong Yi bisa sefrekuensi dengan Anda.

Pelajaran bisa didapat dari mana saja. Hobi saya adalah nonton drama dan saya tidak akan menjadikan hobi saya adalah hobi yang hanya membuang-buang waktu dan air mata. Semoga Anda paham.

nod notes, novidwiwr

Salam Sapa

Sudah 13 Januari. Semoga belum telat untuk menyapa warga net dan mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2018!

IMG_20180112_171506.png

Kalau masih ada yang memperdebatkan apakah merayakan tahun baru itu perlu, bukankah itu pemborosan, bukankah itu mengganggu dengan suara kembang api, bukankah itu hanya membakar uang, bukankah tiap hari adalah sama, dan kemudian merujuk pada keyakinan, monggo perdebatkanlah. Monggo perdebatkan dengan rujukan yang jelas, dapat diterima, dan renyah, sehingga menghasilkan pembelajaran yang bermanfaat. Maaf belum bisa membantu dalam mencari kebenaran perihal ini karena saya sedang sibuk mencari kebenaran perihal konsentrasi Polyacrylonitrile yang tepat untuk Dimethylacetamide. Maafkan.

Terlepas dari itu, maka yang bisa saya dapat dari adanya tahun baruan 2018 adalah MOMENTUM. Membuat resolusi, menambah energi, manambah harap, membulatkan tekad, dan refleksi. Hal tersebut memang tidak harus dilakukan saat tahun baru, harusnya tiap hari. Memang! Lalu, apakah salah ketika kita memperingati 17 Agustus dan mengobarkan kembali api kemerdekaan? Lalu, apakah salah di hari munculnya Kartu Hasil Studi kemudian kita berefleksi, menambah harap, dan memperbaiki? Selama baik, Anda yakin itu baik, dan membawa pengaruh baik, maka lakukan! Sedangkan perihal definisi baik, monggo kembalikan pada hati.

Salam sapa! Lama tak berjumpa! Mari tumbuh bersama!

nod notes, novidwiwr

Rindu Panjang

Surabaya malam ini, masih punya sisa-sisa gerimis. Sedikit. Sambil menamatkan novel menye-menyenya Pidi Baiq, menutup buku, rindu itu datang lagi. Kalau Milea rindu Dilan, aku rindu yang lain. Bukan kekasih, tapi terkasih. Bukan yang aku cintai, tapi tercinta, mencintaiku, dan selamanya.

Bulan lalu, dia tidak bisa menemaniku ngopi manis bersama ibuk. Dua tahun lalu, dia tidak bisa mengantarku kemari, ke Surabaya, kota yang akan memberiku sejuta kenangan. Benar, kenangan ini memang bukan untuknya. Lima tahun lalu, dia tidak lagi membuatkanku atribut MOS, tidak lagi begadang membuatkan tugas prakarya, tidak lagi mengomeli masalah rapor, tidak lagi menceramahi sifat burukku, tidak lagi menungguiku di depan kamar mandi di malam hari. Dan, tujuh tahun lalu, dia tak lagi mendengar panggilanku. Sepertinya dia lelah padaku.

Gerimisnya sudah reda. Maaf, rinduku tidak bisa reda. Dan tulisanku terhenti, karena kusadari sepertinya aku salah ngasih judul di tulisan ini. Karena, merindukannya di muka bumi bukanlah rindu panjang, melainkan itu adalah rindu abadi.

-selalu rindu, Nod-

nod notes, novidwiwr

Cemburu

Aku diam. Diam. Diam. Diam.

Aku takut, jika aku berkata, yang aku katakan adalah suatu hal yang tak indah.

Aku tak ingin, apa yang aku katakan akan menyakitinya, atau mereka, atau kita.

Sepertinya…

Aku tak suka melihatnya bersamanya.

Aku tak suka melihat mereka bersama mereka.

Aku tak suka melihat mereka bersama mereka dari mereka.

Cemburu?

Iya, aku cemburu.

Cemburu akan kebersamaan?

Bisa jadi.

Cemburu karena kau mencintainya?

Tidak juga.

Cemburu karena kau ingin bersama mereka?

Tidak mungkin.

Cemburu karena kau iri padanya dan pada mereka?

Celakalah aku.

Selamat cemburu, maka akan habis waktumu!

Selamat cemburu, maka akan habis hatimu!

nod notes, novidwiwr

Pulanglah!

Tiga hari ini aku kabur dari kenyataan. Sebenarnya aku sadar bahwa semua itu hanyalah penumpukan kenyataan yang akan ‘mbendol’ di waktu yang lainnya. Tapi, jiwa ini berkata lain, bakal mbendol segedhe bakpao atau segedhe tiang, bodo amat! Saya harus pulang!

Ngapain saja saya di rumah? Saya tidur, makan, nonton tv, leyeh-leyeh, nyamil, kemudian tidur lagi, repeat. Seperti tidak ada hal produktif yang saya lakukan. Membantu ibuk? Hanya nyapu dan mencabut rumput. Semalas itu? Iya.

Satu-satunya hal produktif yang saya lakukan hanyalah… menatap wajah ibuk! Yang kemudian memberikan jawaban mengapa saya menjadi sedikit tidak waras akhir-akhir ini. Yang meneriaki saya bahwa jalan yang sedang saya tapak ini sepersekian derajat berbelok dari jalan yang seharusnya. Yang menampar saya bahwa hal tersebut tidak bisa dibiarkan saja! Jawaban, teriakkan, dan tamparan itu saya dapatkan ketika… lagi nyeruput kopi robusta adukan ibuk, sore itu, di gerimis itu.

Kamu tau kenapa aku harus pulang? Aku perlu meluruskan lagi, niatku, dan mengapa aku harus disini.

nod notes, novidwiwr

Karena Sayang

Aku cemas. Sepertinya ini tidak akan baik-baik saja. Sepertinya ini tidak akan berjalan dengan lancar. Sepertinya harapanku akan kandas.

Aku ragu. Apakah pilihanku adalah sesuatu yang benar? Apakah yang aku perjuangkan adalah sesuatu yang layak? Apakah ini akan sia-sia?

Aku ingin menyerah. Ah, memangnya aku sedang berjuang? Siapa aku? Pantaskah ini disebut sebagai perjuangan? Bisa jadi ini hanyalah bak ambisi seorang remaja kepada artis idolanya. Tapi, bisa jadi ini adalah ambisi yang memang perlu untuk diperjuangkan. Siapa tahu.

Lalu, jika aku menyerah, siapa lagi yang akan berjuang?

Aku memikirkannya sendiri. Tidak, aku hanya memikirkan sebagian saja. Atau bahkan, tidak sama sekali. Ah, mungkin aku benar-benar sudah menyerah.

Aku berpikir untuk menyerah, saat ini. Tapi hatiku berkata lain. Ada yang sesak. Karena apa? Bolehkah jika aku menjawabnya dengan, “semua ini karena aku sayang”?

nod notes, novidwiwr

Area Dewasa

Selamat ulang tahun ya ndok. Panjang umur sukses kuliahnya ditinggikan derajatnya dan dikasih banyak rejeki ama Allah. Amin Ya Robal Alamin. Jangan lupa dekatlah selalu kamu ama Allah ya ndok. – 5:31 WIB, 13 Mei 2017, dari Ibuk ❤

Wah, dengaren sekali hpku ramai dari puagi, mulai dari telpon, sms, whatsapp, line, sampe instagram. Mulai dari personal chat, grup, multiple chat, sampe story. Mulai dari ucapan, doa, harapan, banyolan, sampe minta traktir, haha. Btw, yang ngucapin secara langsung adakah, Nov? Ada, dong :* Terimakasih buat semuanya. Terimakasih dari hati yang paling dalam. Doaku juga menyertai kalian semua {}

Ahh, menyenangan sekali… sampai tiba saatnya hati mulai bergetar lagi. “Udah 20 tahun. Udah dewasa. Udah bukan anak kecil lagi. Yang dewasa woy!” Ahh, begitulah sepertinya kata hati. Kemudian pikiran menyahut, “Dewasa tu apa, sih? Kamu punya hak apa dengan mengatakan kalau seseorang yang sudah 20 tahun itu harus menjadi dewasa? Apa hakmu untuk mendefinisikan kedewasaan?” Kemudian aku hanya bisa membenamkan diri pada bantal. Hari itu tidaklah melelahkan. Tapi, hati dan pikirankulah yang sepertinya sedang berkecambuk dengan euforia ulang tahun.

Dewasa: mempunyai tujuan, mandiri, bijaksana, dan bertanggung jawab. Pikiranku hanya mampu berteori akan empat hal itu saja dengan keabsurdan-keabsurdan definisi dewasa di luar sana. Tujuan. Seseorang jelas harus memiliki tujuan, nawaytu-nya harus ada. Ketika bocah dan remaja masih mengikuti arus dan tujuan orang tua, guru, teman, dan mungkin tetangga, dewasa tidak bisa seperti itu. Sayangnya, tujuan saja tidak cukup. Cara, proses, dan dasar dalam mencapai tujuan hidup tersebut harus ada. Pertama adalah mandiri. Tidak menggantungkan pada orang lain, melainkan tumpuannya ada pada diri sendiri, dan bukan berarti tidak bersosialisasi. Kedua, bijaksana. Dalam perjalanan hidup yang dewasa, segala tindakan, pilihan, dan keputusan, harus dipikir benar-benar dan ditimbang dari segala aspek kehidupan. Ketika semua itu sudah diputuskan, maka selanjutnya adalah tanggung jawab. Semua harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia, maupun di akhirat. Ketika circle dari keempat hal tersebut berjalan, disitulah “dewasa” dapat dilabelkan pada seseorang. Karena dari keempat hal tersebutlah, menurut pikiran dangkal saya, ke-homeostasis-an hidup dapat tercapai. Ahh, saya sudah bisa berteori yak. Ucapkan selamat untuk saya dong.

Kemudian, hati mulai bergetar lagi, pun pikiran. Sudahkah aku memiliki tujuan hidup? Sudahkah tujuan hidup itu adalah dasar dari hidup itu sendiri? Sudahkah dalam proses mencapai tujuan tersebut sudah berdasarkan apa yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, baik dunia dan akhirat? Sudahkah mandiri, bijaksana, dan bertanggung jawab ada pada diri? Sudahkah? Sudahkah? Nyatanya, semua itu masih separuh proses. Atau mungkin seperempat. Atau bahkan seper tak hingga.

Lalu, apakah itu salah? Yahhh, siapa juga orang yang mau disalahkan. Pembenaran. Alhasil, aku hanya bisa mencari pembenaran dengan… “Ya kan, ini baru awal, angka belakangnya masih ‘nol’. Ini masih merangkak, masih belajar. Seenggaknya aku sudah punya definisi dewasa versiku sendiri. Dan ini masih belajar untuk mencapai itu semua. Bukankah memang kehidupan adalah proses untuk belajar. Dan, apakah kita hanya akan berpatok pada DEWASA dan TAK DEWASA?” Baiklah, maafkan saya yang masih dalam proses “hanya bisa mengakui dan mencari pembenaran”. Aku akui, aku masih belum bisa dewasa dan ini lagi amping-amping di depan gang “AREA DEWASA”.

-nod-

Btw, aku juga punya hadiah buat kalian meskipun kalian lagi gak ultah. Nih..

nod notes, novidwiwr

Pertemuan Ini, Aku Sangat Bersyukur

Ada yang membuatku penasaran ketika aku mengikuti beberapa drama Korea. Banyak drama Korea yang menyebut-nyebut kata “Unmyeong” sebagai sesuatu yang indah, namun sakral dan penuh misteri. Entahlah, aku tidak pernah tinggal di Korea –mampir aja gak pernah. Tapi, sepertinya unmyeong memang menjadi sesuatu yang spesial bagi orang Korea, terlebih soal cinta.  Lalu, unmyeong itu apa? Unmyeong – kita sering menyebutnya dengan “takdir”.

Takdir. Takdir-Nya memang sering membuat kita bertanya-tanya. “Kok bisa ya, aku ada disini? Kok bisa ya, aku menjadi ini? Kok bisa ya? Kok bisa ya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering sekali muncul dan kita hanya bisa bertanya-tanya. Kuasa ada pada-Nya, pun jalan-Nya. “Kenapa ya, aku bisa ditakdirkan tinggal di lingkungan seperti ini? Kenapa ya, aku ditakdirkan ada di tempat ini? Kenapa ya, aku harus melalui semua ini?” Hingga tiba suatu saat dimana kemudian kita menebak-nebak, mencoba mengambil hikmah, dan mensyukuri semuanya. Ah, betapa indahnya ‘suatu saat’ itu.

Mungkinkah ‘suatu saat’ itu adalah ‘saat ini’? Saat ini aku bertemu denganmu, dengan kau, dengan kalian, dengan mereka, dengan kita, dengan dia, dengan ini, dan dengan itu. Bertemu, berkenalan, berteman, bersahabat, bercakap, menyayangi, mengasihi, menasehati, menangis, menertawakan, melindungi, mendukung, menjaga, memarahi, membenci, dan semuanyaa, dan semuanyaa. Fasenya sekarang adalah aku sedang menebak seolah ini adalah misteri. Kemudian mencoba mengambil hikmah yang mungkin sakral. Hingga aku pun menyimpulkan bahwa semua ini adalah… unmyeong dan ini… unmyeong yang indah.

Terimakasih dari hati.

Pertemuan ini, aku sangat bersyukur.

Terlebih, untuk kamu dan kalian.

Sekali lagi, kok bisa, ya?

-salam syukur, dari nod-