Area Dewasa

Selamat ulang tahun ya ndok. Panjang umur sukses kuliahnya ditinggikan derajatnya dan dikasih banyak rejeki ama Allah. Amin Ya Robal Alamin. Jangan lupa dekatlah selalu kamu ama Allah ya ndok. – 5:31 WIB, 13 Mei 2017, dari Ibuk ❤

Wah, dengaren sekali hpku ramai dari puagi, mulai dari telpon, sms, whatsapp, line, sampe instagram. Mulai dari personal chat, grup, multiple chat, sampe story. Mulai dari ucapan, doa, harapan, banyolan, sampe minta traktir, haha. Btw, yang ngucapin secara langsung adakah, Nov? Ada, dong :* Terimakasih buat semuanya. Terimakasih dari hati yang paling dalam. Doaku juga menyertai kalian semua {}

Ahh, menyenangan sekali… sampai tiba saatnya hati mulai bergetar lagi. “Udah 20 tahun. Udah dewasa. Udah bukan anak kecil lagi. Yang dewasa woy!” Ahh, begitulah sepertinya kata hati. Kemudian pikiran menyahut, “Dewasa tu apa, sih? Kamu punya hak apa dengan mengatakan kalau seseorang yang sudah 20 tahun itu harus menjadi dewasa? Apa hakmu untuk mendefinisikan kedewasaan?” Kemudian aku hanya bisa membenamkan diri pada bantal. Hari itu tidaklah melelahkan. Tapi, hati dan pikirankulah yang sepertinya sedang berkecambuk dengan euforia ulang tahun.

Dewasa: mempunyai tujuan, mandiri, bijaksana, dan bertanggung jawab. Pikiranku hanya mampu berteori akan empat hal itu saja dengan keabsurdan-keabsurdan definisi dewasa di luar sana. Tujuan. Seseorang jelas harus memiliki tujuan, nawaytu-nya harus ada. Ketika bocah dan remaja masih mengikuti arus dan tujuan orang tua, guru, teman, dan mungkin tetangga, dewasa tidak bisa seperti itu. Sayangnya, tujuan saja tidak cukup. Cara, proses, dan dasar dalam mencapai tujuan hidup tersebut harus ada. Pertama adalah mandiri. Tidak menggantungkan pada orang lain, melainkan tumpuannya ada pada diri sendiri, dan bukan berarti tidak bersosialisasi. Kedua, bijaksana. Dalam perjalanan hidup yang dewasa, segala tindakan, pilihan, dan keputusan, harus dipikir benar-benar dan ditimbang dari segala aspek kehidupan. Ketika semua itu sudah diputuskan, maka selanjutnya adalah tanggung jawab. Semua harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia, maupun di akhirat. Ketika circle dari keempat hal tersebut berjalan, disitulah “dewasa” dapat dilabelkan pada seseorang. Karena dari keempat hal tersebutlah, menurut pikiran dangkal saya, ke-homeostasis-an hidup dapat tercapai. Ahh, saya sudah bisa berteori yak. Ucapkan selamat untuk saya dong.

Kemudian, hati mulai bergetar lagi, pun pikiran. Sudahkah aku memiliki tujuan hidup? Sudahkah tujuan hidup itu adalah dasar dari hidup itu sendiri? Sudahkah dalam proses mencapai tujuan tersebut sudah berdasarkan apa yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, baik dunia dan akhirat? Sudahkah mandiri, bijaksana, dan bertanggung jawab ada pada diri? Sudahkah? Sudahkah? Nyatanya, semua itu masih separuh proses. Atau mungkin seperempat. Atau bahkan seper tak hingga.

Lalu, apakah itu salah? Yahhh, siapa juga orang yang mau disalahkan. Pembenaran. Alhasil, aku hanya bisa mencari pembenaran dengan… “Ya kan, ini baru awal, angka belakangnya masih ‘nol’. Ini masih merangkak, masih belajar. Seenggaknya aku sudah punya definisi dewasa versiku sendiri. Dan ini masih belajar untuk mencapai itu semua. Bukankah memang kehidupan adalah proses untuk belajar. Dan, apakah kita hanya akan berpatok pada DEWASA dan TAK DEWASA?” Baiklah, maafkan saya yang masih dalam proses “hanya bisa mengakui dan mencari pembenaran”. Aku akui, aku masih belum bisa dewasa dan ini lagi amping-amping di depan gang “AREA DEWASA”.

-nod-

Btw, aku juga punya hadiah buat kalian meskipun kalian lagi gak ultah. Nih..

nod notes, novidwiwr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s